Pernah mengalami mobile banking tidak bisa dibuka, lalu muncul peringatan mengenai aplikasi yang dianggap tidak aman? Salah satu hal yang perlu diperiksa adalah aplikasi lain yang terpasang di ponsel, terutama APK yang diperoleh dari luar Google Play Store atau toko aplikasi resmi.

Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan perlindungan keamanan pada perangkat Android dan layanan perbankan. Tujuannya bukan sekadar membatasi aplikasi yang boleh digunakan, tetapi mengurangi risiko malware yang dapat mencuri informasi sensitif.

Kenapa Aplikasi dari Luar Play Store Bisa Menjadi Masalah?

Memasang aplikasi Android melalui file APK dari website, aplikasi perpesanan, atau sumber lainnya dikenal sebagai sideloading. Tidak semua aplikasi yang dipasang dengan cara tersebut otomatis berbahaya. Namun, risikonya lebih sulit dinilai apabila sumber dan developernya tidak dapat dipercaya.

BRI, misalnya, mengingatkan bahwa APK dari luar Play Store dapat membuka celah masuknya malware. Aplikasi berbahaya dapat meminta izin berlebihan dan berpotensi mendapatkan akses terhadap informasi pribadi maupun data perbankan.

Google Play Protect juga melakukan pemeriksaan terhadap aplikasi dari luar Play Store. Sistem tersebut dapat mencegah pemasangan aplikasi yang belum diverifikasi apabila menggunakan izin sensitif yang kerap dimanfaatkan untuk penipuan keuangan.

Mengapa Mobile Banking Tidak Bisa Dibuka?

Aplikasi perbankan memiliki mekanisme keamanan masing-masing. Pada kondisi tertentu, sistem dapat mendeteksi konfigurasi atau aplikasi lain di perangkat yang dianggap meningkatkan risiko.

Jadi, penyebabnya tidak selalu aplikasi mobile banking itu sendiri.

BCA, misalnya, pernah memberikan panduan resmi bagi pengguna myBCA dan BCA mobile yang mengalami force close atau aplikasi tidak dapat dibuka. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah memeriksa dan menonaktifkan Accessibility Service tertentu. Fitur Accessibility memang dapat memberikan akses yang luas kepada aplikasi sehingga berpotensi disalahgunakan apabila diberikan kepada aplikasi berbahaya.

Karena kebijakan setiap bank berbeda, keberadaan aplikasi dari luar Play Store juga tidak berarti seluruh layanan perbankan otomatis menolaknya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika muncul peringatan mengenai aplikasi berisiko, baca terlebih dahulu informasi yang ditampilkan. Jangan langsung menonaktifkan fitur keamanan hanya untuk memaksa mobile banking berjalan.

Periksa aplikasi yang baru dipasang, terutama APK yang berasal dari link WhatsApp, Telegram, browser, email, atau sumber yang tidak jelas. Jika tidak yakin dengan keamanannya, hapus aplikasi tersebut dan restart ponsel.

Selanjutnya, buka Google Play Store, masuk ke profil dan pilih Play Protect untuk melakukan pemindaian. Google menyarankan Play Protect tetap aktif karena fitur ini dapat mendeteksi, memperingatkan, menonaktifkan, bahkan menghapus aplikasi yang dianggap berbahaya.

Pastikan pula aplikasi bank diperoleh dari toko aplikasi resmi dan menggunakan versi terbaru. Jika masalah tetap terjadi, hubungi kanal resmi bank untuk mengetahui penyebab spesifik pada perangkat.

Baca juga: Cara Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BCA

Jangan Asal Instal APK

Perhatian terhadap sumber aplikasi semakin penting. Mulai September 2026, Android memperluas mekanisme verifikasi developer di Indonesia untuk membantu memastikan aplikasi berasal dari developer yang terverifikasi.

Meski demikian, aplikasi yang dipasang dari luar Play Store tidak otomatis merupakan malware. Masalah utamanya adalah tingkat kepercayaan terhadap sumber, developer, izin yang diminta, dan perilaku aplikasi tersebut.

Jika mobile banking mendeteksi risiko pada perangkat, jangan terburu-buru mencari cara untuk melewati perlindungannya. Periksa aplikasi yang terpasang terlebih dahulu. Untuk perangkat yang digunakan mengakses rekening dan melakukan transaksi keuangan, menjaga lingkungan perangkat tetap aman jauh lebih penting daripada mempertahankan aplikasi yang sumbernya tidak dapat dipastikan.