Pesan yang terlihat berasal dari bank, marketplace, perusahaan teknologi, bahkan teman sendiri belum tentu benar-benar dikirim oleh pihak tersebut. Di balik tampilan yang meyakinkan, bisa saja terdapat upaya phishing untuk mendapatkan password, informasi rekening, PIN, atau data pribadi korban.

Modusnya juga tidak selalu berupa email dengan tulisan mencurigakan. Pelaku dapat membuat halaman login yang menyerupai situs asli, menggunakan nama pengirim yang hampir sama, hingga membangun situasi mendesak agar korban tidak sempat memeriksa kebenarannya.

Google menjelaskan bahwa phishing dapat dilakukan melalui email, pesan, iklan, maupun website yang dibuat menyerupai layanan yang sudah dikenal pengguna.

Contoh Phishing yang Perlu Diwaspadai

1. Pesan akun akan diblokir

Korban menerima pesan yang mengatasnamakan bank, media sosial, marketplace, atau layanan digital. Isinya biasanya menyebut akun bermasalah dan harus segera diverifikasi melalui tautan tertentu.

Setelah tautan dibuka, korban diarahkan ke halaman login tiruan. Username dan password yang dimasukkan kemudian dapat jatuh ke tangan pelaku.

Google menyarankan pengguna tidak memasukkan password setelah membuka tautan dari pesan mencurigakan. Lebih aman membuka aplikasi atau website resmi secara langsung.

2. Hadiah atau promo yang terlalu menarik

Contoh lainnya adalah pesan bahwa penerima memenangkan hadiah, voucher, atau saldo gratis. Untuk mendapatkannya, korban diminta membuka sebuah tautan dan memasukkan informasi pribadi.

Tekanan psikologis seperti “hadiah hanya berlaku hari ini” sering digunakan agar penerima mengambil keputusan dengan cepat.

3. Email keamanan palsu

Pelaku juga dapat meniru peringatan seperti “terjadi login mencurigakan” atau “password Anda telah bocor”.

Modus ini cukup berbahaya karena pengguna merasa sedang mengamankan akun. Google bahkan memperingatkan bahwa penipu dapat meniru email pemberitahuan aktivitas login mencurigakan. Cara yang lebih aman adalah memeriksa aktivitas keamanan langsung dari pengaturan akun, bukan melalui link yang belum terverifikasi.

4. Pengirim dibuat menyerupai perusahaan resmi

Alamat email dapat dibuat sangat mirip dengan alamat sebenarnya. Perbedaannya terkadang hanya satu karakter, misalnya huruf “O” diganti angka “0”.

Teknik seperti ini membuat pengguna mudah terkecoh ketika hanya membaca nama pengirim sekilas. Gmail sendiri memberikan peringatan ketika mendeteksi alamat yang menyerupai pengirim tertentu.

5. Meminta password, PIN, atau informasi rekening

Pesan yang meminta data sensitif patut dicurigai, terlebih jika penerima diminta mengirimkannya melalui formulir atau halaman yang berasal dari tautan pesan.

Informasi seperti password, PIN, nomor rekening, kartu pembayaran, dan identitas pribadi sebaiknya tidak diberikan melalui pesan yang tidak dapat dipastikan keasliannya.

Baca juga: Mode Incognito: Sudah Cukup Aman atau Perlu VPN?

Bagaimana Mengenali Phishing?

Jangan menilai keamanan pesan hanya dari logo atau nama perusahaan yang ditampilkan. Periksa alamat pengirim, ejaan domain, isi pesan, serta tujuan tautan sebelum membukanya.

Waspadai pula kalimat yang sengaja menciptakan kepanikan seperti akun akan ditutup, saldo terancam hilang, atau transaksi harus segera dibatalkan.

Jika pesan mengatasnamakan suatu layanan, buka aplikasi atau ketik alamat situs resminya secara mandiri. Jangan masuk melalui link yang dikirimkan pihak tidak dikenal.

Google juga menyarankan pengguna memperhatikan peringatan keamanan, tidak mengunduh lampiran mencurigakan, dan melaporkan email yang terindikasi phishing.

Memahami berbagai contoh phishing menjadi penting karena bentuk penipuan terus dibuat semakin meyakinkan. Kebiasaan sederhana seperti memeriksa pengirim, tidak terburu-buru membuka tautan, dan menjaga kerahasiaan data akun dapat mengurangi risiko menjadi korban.